PENDIDIKAN KARAKTER
Yasinta Yenita Dhiki
Program Studi Pendidikan
Matematika,
Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan, Universitas Flores
Abstrak : Dunia
pendidikan menyadari bahwa nilai-nilai merupahkan inti dari setiap kebudayaan,
khususnya nilai-nilai karakter yang merupahkan sarana/ upaya untuk membangun karakter bangsa. Nilai-nilai itu di antaranya tanggung jawab, rasa hormat, keadilan, keberanian,
kejujuran, rasa kebangsaan, disiplin diri, peduli, dan ketekunan. Pendidikan
nilai dimulai dari rumah dan dikembangkan di sekolah/lembaga pendidikan, dan
diterapkan secara nyata di masyarakat. Lembagaa pendidikan dalam hal ini tenaga
pendidik harus mampu mengitegrasikan nilai-nilai karakter di setiap mata
pelajaran, maupun pada kegiatan ekstra kurikuler.
Kata
Kunci: Pendidikan Karakter, Tenaga
Pendidik
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat, dan kebaikan-Nya sehingga
penyusunan makalah ini selesai sesuai dengan apa yang diharapkan.
Tak lupa saya ucapkan terimakasih atas semua pihak yang ikut membantu
penyusunan makalah tentang pendidikan
karakter. Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memberikan penjelasan
tentang pendidikan karakter baik itu dari sisi pengertian karakter dan
pendidikan karakter maupun nilai serta
peran guru dalam pendidikan karakter. Semoga apa yang penulis sampaikan melalui
makalah ini dapat menambah wawasan baik itu untuk pribadi penulis maupun dunia
pendidikan pada umumnya.
Penulis menyadari
bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, oleh karena itu
penulis sangat mengharap adanya kritik
dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini. Penulis
mengucapkan terimakasih kepada pihak - pihak yang sudah membantu dalam
penyusunan makalah ini.
Ende,
2015
Penyusun
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Karakter dan Pendidikan Karakter
B. Pendidikan karakter sebagai Pendidikan Nila
C. Peran Guru Dalam Pendidikan Karakter
BAB III PENUTUP
3.1.Kesimpulan
3.2. Saran
Daftar Pustaka
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakan
Indonesia memerlukan sumberdaya
manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam
pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki
peran yang sangat penting.
Hal ini sesuai dengan UU Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 3, yaitu:”Pendidikan
Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Dalam UU ini secara jelas ada kata “karakter”,
Ahli pendidikan nilai Zuchdik (Adisusilo, 2012: 77) memaknai
karakter sebagai seperangkat sifat-sifat yang selalu dikagumi sebagai
tanda-tanda kebaikan, kebijakan, dan kematangan moral seseorang. Tujuan
pendidikan karakter adalah mengajarkan nilai-nilai yang diterima secara luas
sebagai landasan perilaku yang baik dan bertanggung jawab.
B. Rumusan
Masalah
Penulis telah
menyusun beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini sebagai batasan
dalam pembahasan bab isi. Beberapa masalah tersebut antaralain :
a.
Apa
itu karakter dan pendidikan karakter
b.
Apakah pendidikan
karakter merupahkan pendidikan nilai
c.
Bagaimana
Peran guru dalam pendidikan karakter
C. Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalaah di atas, maka tujuan dalam penulisan makalah ini sebagai
berikut:
a.
Untuk mengetahui apa itu karakter dan pendidikan
karakter.
b.
Untuk
mengetahui pendidikan karakter sebagai pendidikan nilai.
c.
Untuk
mengetahui peran guru dalam pendidikan karakter.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Karakter dan Pendidikan Karakter
Pengertian
karakter
·
Menurut Kamus Besar Bahasa Indoensia
Karakter adalah Sifat - sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang
membedakan seseorang dari yang lain
·
Menurut (Ditjen Mandikdasmen -
Kementerian Pendidikan Nasional) karakter adalah cara berfikir dan berperilaku
yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama baik dalam
lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
·
Menurut Imam Ghozali menganggap bahwa karakter lebih
dekat dengan akhlaq, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau melakukan
perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak
perlu dipikirkan lagi.
Dari
pendapat di atas dipahami bahwa karakter itu berkaitan dengan kekuatan moral,
berkonotasi ‘positif’, bukan netral. Jadi, ‘orang berkarakter’ adalah orang
yang mempunyai kualitas moral (tertentu) positif. Dengan demikian, pendidikan
membangun karakter, secara implisit mengandung arti membangun sifat atau pola
perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau
baik, bukan yang negatif atau buruk. Hal ini didukung oleh Peterson dan
Seligman (Gedhe Raka, 2007:5) yang mengaitkan secara langsung ’character strength’ dengan kebajikan. Character strength dipandang sebagai
unsur-unsur psikologis yang membangun kebajikan (virtues). Salah satu kriteria
utama dari ‘character strength’
adalah bahwa karakter tersebut berkontribusi besar dalam mewujudkan sepenuhnya
potensi dan cita-cita seseorang dalam membangun kehidupan yang baik, yang
bermanfaat bagi dirinya, orang lain, dan bangsanya.
Pengertian
pendidikan karakter
·
Pendidikan
adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat
sehingga membuat orang dan masyarakat jadi beradab. Pendidikan bukan merupakan
sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi yakni sebagai
sarana pembudayaan dan penyaluran nilai (enkulturisasi dan sosialisasi). Anak
harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh dimensi dasar kemanusiaan. Dimensi
kemanusiaan itu mencakup sekurang-kurangnya tiga hal paling mendasar, yaitu:
(1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan, ketakwaan, akhlak mulia
termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul, dan kompetensi estetis;
(2) kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk
menggali dan mengembang-kan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; dan
(3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan
teknis, kecakapan praktis, dan kompetensi kinestetis.
·
Pendidikan karakter adalah sebuah sistem yang
menanamkan nilai karakter pada peserta didik yang mengandung komponen
pengetahuan, kesadaran individu, tekad serta adanya kemauan dan tindakan untuk
melaksanakan nilai - nilai baik terhadap Tuhan YME, diri sendiri, sesama manusia,
lingkungan maupun bangsa. Sementar itu menurut Foerster ( Adisusilo, 2012: 77) karakter
adalah seperangkat nilai yang telah
menjadi kebiasaan hidup sehingga menjadi sifat tetap dalam diri sesorang ,
misalnya kerja keras, pantang menyerah, jujur, sederhana, dll. Dengan karakter
itulah kualitas seorang pribadi diukur.
Sedangkan tujuan pendidikan karakter adalah terwujudnya kesatuan esensial si
subjek dengan perilaku dan sikap/ nilai hidup yang dimilikinya. Jadi,
pendidikan karakter dapat dilakukan dengan pendidikan nilai pada diri
seseorang.
B. Pendidikan
Karakter Sebagai Pendidikan Nilai
Daniel Goleman yang terkenal dengan bukunya Multiple Intelligences, dan Emosional Intellgences (1999),
menyebutkan bahwa pendidikan karakter merupakan pendidikan nilai, yang mencakup
sembilan nilai dasar yang saling terkait, yaitu:
1.
Responsibility (tanggung jawab)
2.
Respect (rasa hormat)
3.
Fairness (keadilan)
4.
Courage (keberanian)
5.
Honesty (kejujuran)
6.
Citizenship (rasa kebangsaan)
7.
Self-discipline (disiplin diri)
8.
Caring (peduli) dan
9.
Perseverance (ketekunan)
Pendidikan
nilai harus dimulai di rumah, dikembangkan di lembaga pendidikan sekolah dan
diterapkan secara nyata dalam masyarakat (termasuk masyarakat politik,
industri, usaha, dan lain – lain). Dalam pandangannya pendidikan nilai atau
karakter amat sebab menurut hasil penelitian Daniel Golema (Adisusilo,
2012:81), keberhasilan atau sukses hidup seseorang itu 80% ditentukan oleh
karakternya (kecerdasan emosional, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual)
dan hanya 20% ditentukan oleh kecerdasan intelektualnya.
Lickona (1991:
187-189; 220-221) menyatakan bahwa ada 11 prinsip agar pendidikan karakter
dapat terlaksana secara efektif:
1.
kembangkan
nilai – nilai universal / dasar sebagai fondasinya;
2.
defenisikan “karakter” secara komprehensif yang mencakup
pikiran, perasaan dan perilaku;
3.
gunakan pendekatan yang komprehensif,
disengaja, dan proaktif;
4.
ciptakan
kominitas sekolah yang penuh perhatian;
5.
beri
peserta didik kesempatan untuk melakukan tindakan moral;
6.
buat
kurikulum akademik yang bermakna dan yang menghormati semua peserta didik untuk
berhasil;
7.
mendorong
motivasi pesrta didik;
8.
melibatkan
seluruh civitas sekolah sebagai kominitas pembelajaran dan moral;
9.
tumbuhkan
kebersamaan dalam kepemimpinan moral;
10. libatkan keluarga dan anggota
masyarakat sebagai mitra;
11. evaluasi karakter sekolah, fungsi
staf sekolahsebagai pendidik karakter, dan sejauh mana peserta didik
memanifestasikan karakter yang baik.
C. Peran
guru dalam pendidikan karakter
Guru
adalah pendidik profesional yang mempunyai tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik atau
siswa. Dalam konteks pencapaian tujuan pendidikan karakter, Guru menjadi ujung
tombak keberhasilan tersebut. Guru, sebagai sosok yang digugu dan ditiru,
mempunyai peran penting dalam aplikasi pendidikan karakter di sekolah maupun di
luar sekolah. Sebagai seorang pendidik, guru menjadi sosok figur dalam
pandangan anak, guru akan menjadi patokan bagi sikap anak didik. Dalam Undang-Undang
Sistem Pendidikan Nasional diamanatkan bahwa seorang guru harus memiliki
kompetensi kepribadian yang baik. Kompetensi kepribadian tersebut menggambarkan
sifat pribadi dari seorang guru. Satu yang penting dimiliki oleh seorang guru
dalam rangka pengambangan karakter anak didik adalah guru harus mempunyai
kepribadian yang baik dan terintegrasi dan mempunyai mental yang sehat. image
Profesi guru mempunyai 2 (dua) tugas penting, yaitu mengajar dan mendidik.
Kedua tugas tersebut selalu mengiringi langkah sang guru baik pada saat
menjalankan tugas maupun diluar tugas (mengajar). Mengajar adalah tugas
membantu dan melatih anak didik dalam memahami sesuatu dan mengembangkan
pengetahuan.
Sedangkan
mendidik adalah mendorong dan membimbing anak didik agar maju menuju kedewasaan
secara utuh. Kedewasaan yang mencakup kedewasaan intelektual, emosional,
sosial, fisik, seni spiritual, dan moral. Pendidikan karakter dewasa ini
menjadi solusi alternatif bagi perkembangan siswa mejadi insan ideal.
Pendidikan karakter diarahkan untuk
menanamkan karakter bangsa secara menyeluruh, baik pengetahuan (kognitif),
nilai hidup (afektif), maupun tindakan terpuji (psikomotor). Tujuannya adalah
membentuk siswa supaya mereka mampu menjadi insan kamil. Pelaksanaan pendidikan
karakter diprioritaskan pada penanaman nilai-nilai transeden yang dipercayai
sebagai motor penggerak sejarah (Koesoema, 2007). Tujuannya adalah meningkatkan
mutu pendidikan yang menekankan kepada pembentukan karakter dan akhlak mulia
para siswa secara utuh dan seimbang sesuai dengan SKL yang ditentukan.
Sebagai
pendidik, guru bisa menjadi mitra siswa dalam berkembang maupun dalam menilai
perkembangan siswa tersebut. Untuk itu, guru harus terlebih dahulu mengenal
siswa secara pribadi. Hal ini bisa ditempuh dengan cara: pertama, guru harus
mengenali dan memperhatikan pengertian-pengertian yang dibawa siswa pada awal
proses pembelajaran. Kedua, guru harus mengetahui
kemampuan, pendapat, dan pengalaman siswa. Ketiga, pengenalan dan pemahaman
konteks nyata para siswa sebagai dasar dalam merumuskan tujuan, sasaran,
metode, dan sarana pembelajaran. Guru harus mampu mengintegrasikan pendidikan
karakter ke dalam setiap mata pelajaran, termasuk kegiatan ekstrakurikuler.
BAB
III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas penulis
dapat menyimpulkan bahwa karakter adalah seperangkat nilai yang telah menjadi
kebiasaan hidup. Pendidikan karakter merupahkan
pendidikan nilai harus di mulai dari keluarga di kembangkan di lembaga
pendidikan dan diterapkan secara nyata dalam masyarakat. Sedangkan tujuan dari
pendidikan karakter
merupahkan perwujudtan perilaku dan sikap/nilai hidup
yang dimilikinya, serta menciptakan manusia yang cerdas,
kreatif , berahlak dan memiliki kepribadian yang positif agar mampu mengelola
dan mengambil peran dalam membangun bangsa yang bermartabat.
B. Saran
Pemerintah
dan semua komponen masyarakat, orang tua dan guru harus bahu membahu untuk dapat menanamkan nilai
karakter pada diri peserta didik agar menjadi tunas bangsa yang bermartabat dan
beraklhak.
Akhirnya dari semua pembahasan
ini , penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita
semua. Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Natsir
B. Kotten, 2012. Profesi Pendidikan. Ende: Nusa Inda
Sutarjo
Adisusilo, JR. 2012. Pembelajaran Nilai Karakter.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
http:
//www.Belajarpsikologi.com/pengertian-pendidikan-karakter.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar